Nama : Tia Sri Rejeki Manik
Npm : 29210543
Kelas : 2EB20
Perang
melawan kemiskinan? Sepertinya hanya SLOGAN!
Sejak
masa Sukarno, Suharto dst. sering kali kita dengar slogan-slogan yang berbunyi
“Kita harus berperang melawan kemiskinan”. Slogan ini menjadi penyemangat untuk
serius menuntaskan kelaparan di negara ini dan seolah menjadi penyejuk bagi
masyarakat kita bahwa pemerintah benar-benar ingin men”delete” masalah ini.
Namun kenyataannya, kemiskinan masih lekat sekali kita lihat dan dengar di
televisi dan radio. Jika kita membahas kemiskinan tentunya kata ini juga
identik dengan kata kelaparan. Tidak mengada-ada namun benar kenyataannya bahwa
kemiskinan sangat erat dengan kelaparan. Begitu juga kelaparan, sangat erat
sekali dengan kulitas SDM yang lemah. Begitu juga dengan SDM yang lemah akan
erat kaitannya dengan akses jalan yang sulit dan seterusnya. Kemiskinan bagi
kita yang memiliki nurani, merupakan sebuah kata yang sangat mengerikan.
Apalagi tragedi ini terjadi di negeri kita sendiri dan menimpa saudara-saudara
kita sendiri. Masih teringat jelas di benak kita tragedi kelaparan di Yahokimo
(Papua) yang menelan 55 orang meninggal atau peristiwa Daeng Besse dan bayinya
(Makasar) yang tengah dikandungnya meninggal karena kelaparan. Pemerintah pusat
ataupun pemerintah daerah malah sempat saling tuding dengan tragedi ini dan
saling melempar tanggung jawab. Seharusnya pemerintah langsung memeriksa
penduduk yang kelaparan dan bukannya saling tuding bahkan menutup mata dengan
peristiwa ini.
Kemiskinan pada dasarnya
adalah sebuah masalah yang selalu terjadi pada sebuah negara berkembang seperti
Indonesia. Apalagi topografi negara kita yang terdiri dari ribuan pulau
menambah sulitnya penanggulangan masalah ini. Namun bukan berarti tidak bisa
diatasi. Kemiskinan di negara kita bisa jadi sulit untuk dihilangkan namun
pemerintah bisa menguranginya sedikit demi sedikit dan akhirnya menyelesaikan
masalah ini. Kemiskinan dan kelaparan pasti bisa di minimalisir hingga sekecil
mungkin oleh pemerintah dan dukungan dari masyarakat itu sendiri. Namun
sebelumnya harus ada sebuah rencana ataupun program yang jelas, kemauan dan
tekad yang besar dan juga niat membantu saudara-saudara kita.
Pemerintah saat ini pernah
menjanjikan akan menuntaskan kemiskinan pada tahun 2015, tapi janji ini tak
lebih hanya sebuah statement formal sebagai simbolisme keseriusan penuturnya di
depan publik. Namun kenyataan di lapangan masih banyak saudara kita yang
menyandang predikat miskin. Bahkan penulis mendapatkan info dari harian kompas
disebutkan bahwa + 26,63 juta penduduk Indonesia terancam kelaparan. Belum lagi
research lain yang mendata tentang jumlah penduduk miskin di negara kita ini.
Kita ketahui bersama bahwa
kemiskinan akan menimbulkan banyak dampak yang buruk. Sebut saja, kelaparan
yang telah dijabarkan di awal, kemudian busung lapar, kemudian gizi buruk dan
akhirnya kematian sebagai ujung yang sangat memilukan. Lalu kenapa kemiskinan
hadir di tengah-tengah masyarakat kita? Banyak sekali faktor yang mengakibatkan
hadirnya kemiskinan yang biasanya meliputi kurangnya individu dalam menguasai
alat produksi sehingga individu tersebut tidak produktif, kualitas sumber daya
manusia yang sangat rendah, sulitnya akses menuju luar daerah dan juga
kurangnya perhatian pemerintah.
Menurut Saya Penyelesaiannya …
Merujuk
kepermasalahan di atas, kita pada dasarnya membutuhkan seorang sosok pemimpin
yang teguh, tegas, adil dan bersih yang benar-benar konsisten dalam
menanggulangi masalah ini. Karena pengentasan kemiskinan memang harus
benar-benar sepenuhnya didukung oleh pemerintah dibantu oleh masyarakat itu
sendiri. Banyak sekali aspek yang harus kita benahi guna
menanggulangi kemiskinan yang semakin merajalela.
Salah
satunya yaitu dengan meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat kita hingga ke
pelosok-pelosok negeri. Meski sebuah sekolah berada di pedalaman, selayaknya
mendapatkan fasilitas yang sama seperti sekolah-sekolah yang ada di perkotaan.
Standarisasi fasilitas ini akan memberi pengaruh kepada pendidik untuk terus
belajar dan mengajar. Hal tersebut juga akan memberi aspek positif kepada siswa
maupun masyarakat lingkungan sekolah untuk lebih bersemangat dalam belajar.
Sekolah gratis tidak hanya sebagai slogan namun harus benar-benar gratis
terutama untuk sekolah yang berada di daerah pedalaman.
Kedua,
Memperlancar sarana transportasi khususnya yang menuju daerah-daerah terpencil.
Faktor ini merupakan faktor penting guna membuka wawasan masyarakat kita yang
tinggal di pedalaman. Semakin luas mereka bersosialisasi maka secara otomatis
mereka akan semakin terbuka dan mengerti bagaimana bertahan hidup dengan berkecukupan.
Ketiga, bantuan juga merupakan faktor penting. Tidak hanya berupa harta atau
makanan, namun penyuluhan kepada individu atau sekelompok masyarakat, bantuan
pemberian lapangan kerja ataupun pembagian lahan secara gratis dan otomatis
akan memberikan peluang kerja kepada mereka.
http://babattanahleluhur.wordpress.com/2009/01/20/kemiskinan-di-indonesia-mengapa-dan-apa-solusinya/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar